Equity Research

Equity Detail

Tuesday , 16 Oct 2018 02:01

Defisit Neraca Perdagangan RI Berlanjut YoY dan QoQ 

KinerjaEkspor September 2018

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada bulan September 2018, kinerja ekspor RI tercatat senilai US$ 14,8 miliar turun sebesar 6,6% MoM dibandingkan dengan ekspor Agustus 2018 US$ 15,9 miliar, namun naik tipis sebesar 1,7% YoY bila dibandingkan dengan kinerja ekspor September 2017 sebesar US$ 14,6 miliar. Ekspor migas RI pada bulan yang sama mencapai senilai US$ 1,2 miliar turun sebesar 15,8% MoM (vs US$ 1,4 miliar  di Agustus 2018) dan 16,9% YoY (vs US$ 1,5 miliar  di  September 2017) yang dikontribusikan dari anjolknya ekspor industry pengolahan hasil minyak. Sementara itu, BPS mencatat ekspor non migas RI turun 5,7%  MoM dari US$ 14,4 miliar di Agustus 2018 menjadi senilai US$ 13,6 miliar di September  2018 terutama dari perhiasan/permata (-20% MoM), produk pakaian jadi (-17% MoM), mesin-mesin/pesawat mekanik (-11,6% MoM) dan pengadaan mesin/peralatan listrik (-11,5% MoM).

 

KinerjaImpor September 2018

BPS mencatat impor migas RI di bulan September 2018 mengalami penurunan sebesar 25% MoM menjadi US$ 2,3 miliar (vs US$ 3,0 miliar di Agustus 2018) dimana impor minyak mentah, hasil minyak dan gas RI tercatat masing-masing turun signifikan sebesar 31,9%  MoM, 23,1% MoM dan 14,3% MoM. Namun demikan, impor migas RI masih tercatat naik sebesar 17,8% YoY dibandingkan dengan impor migas  RI di September 2017 senilai US$ 1,9 miliar terutam naiknya impor minyak mentah (+31,2% YoY) dan hasil minyak (+16,4% YoY) sejalan dengan ditahannya kenaikan BBM. Sementara itu, impor non migas RI juga tercatat turun sebesar 10,5% MoM dari US$ 13,8 miliar di Agustus 2018 menjadi US$ 12,3 miliar di September 2018 terutama turunnya impor barang modal yakni mesin/peralatan listrik, mesin/pesawat mekanik dan besi/baja.

 

September 2018, neracaperdagangan RI surplus US$ 227 juta

Pada bulan September 2018, turunnya impor migas RI yang lebih dalam (-25% MoM) dibandingkan dengan turunnya ekspor RI (-6,6% MoM) secara MoM mendorong terjadinya surplus neraca perdagangan RI senilai US$ 227 juta.

 

YoY danQoQ, neracaperdagangan RImasihterjadidefisit

Namun demikian, neraca perdagangan RI masih tercatat mengalami deficit secara kuartalan dan akumulasi YoY. Defisit yang terjadi di 3Q18 senilai US$ 2,7miliar lebih tinggi dibandingkan defisit  yang terjadi di 2Q18 senilai US$ 1,4 miliar. Sementara itu, neraca perdagangan RI secara akumulasi 9M18 juga masih mengalami deficit senilai US$ 3,8 miliar dibandingkan dengan surplus yang terjadi di 9M17 senilai US$ 10,9 miliar. Defisit yang terjadi ini dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia hingga ke level US$ 75 per barel, ditahannya kenaikan BBM dan TDL, dibukanya kembali kehadiran premium di Jawa-Madura-Bali dan depresiasi Rupiah imbas dari tensi perang dagang. Kedepannya, kami melihat deficit neraca perdagangan RI masih akan berlanjut seirama dengan masih ditahannya kenaikan premium dan pertalite meski Pertamina sudah menaikkan BBM  nonsubsidi (pertamaxdll).

 

 

 

RingkasanEkonomiMakro

Periode

2015

2016

2017

2018P

2019P

PDB (%)

4,8%

5,0%

5,1%

5,2%

5,3%

Rupiah/US$ (Rp)

13.855

13.436

13.555

14.500

15.000

BI 7-day RRR (%)

-

4,75

4,25

5,75

6,25

Inflasi (%)

3,35

3,02

3,61

4,00

4,00

CA/PDB (%)

(2,06)

(1,80)

(1,70)

(2,25)

(2,50)

CadanganDevisa (US$ juta)

105.931

116.362

130.196

117.176

111.318

Sumber: Bank Indonesia, BPS danRiset Lotus Andalan